BLOGGER TEMPLATES - TWITTER BACKGROUNDS

16 December 2008

Pemuda Soleh Tertipu Iblis

[Media Puisi - Kisah Bijaksana ] Alkisah, ada seorang penebang kayu yang taat dalam beribadah dan tinggal disebuah hutan yang berdekatan dengan desa suku primitif. Para penduduk desa tersebut menyembah sebuah pohon besar yang tumbuh ditengah desa mereka. Suatu hari si penebang kayu memutuskan untuk menebang pohon tersebut. Ia ingin menunjukkan pada mereka bahwa apa yang mereka sembah bukanlah apa-apa selain ciptaan Tuhan, dan bahwa mereka harus menyembah Tuhan, bukan pohon.

Saat ia berjalan menuju hutan tersebut, seorang pria mencegahnya dan menanyakan ke mana ia akan pergi. “Demi Tuhan, aku akan menebang pohon yang disembah oleh suku yang hidup di tengah hutan.”

“Itu suatu kesalahan,” pria tersebut mengingatkan.

“Siapakah kau hingga berhak mengatakan apa yang harus kulakukan?” tanya si penebang kayu.

“Aku adalah iblis dan aku tidak akan membiarkan dirimu menebang pohon tersebut.”

Penebang pohon tersebut menjadi marah. Ia menarik sang iblis dan membantingnya ke tanah, dan melekatkan kampaknya pada leher sang iblis.

Iblis tersebut berkata, “Kau bersikap tidak masuk akal. Suku tersebut tidak akan pernah membiarkan dirimu menebang pohon suci mereka. Bahkan, jika kau mencoba melakukannya, mereka mungkin akan membunuhmu. Istrimu akan menjadi janda dan anak-anakmu akan menjadi yatim. Disamping itu, bahkan jika kau berhasil menebang pohon tersebut dan selamat, maka mereka akan memilih pohon yang lain untuk disembah. Pikirkanlah”

Iblis kerap berbicara dengan suara logika dan akal. Masing-masing kita pernah mendengar suara seperti ini yang berasal dari hati yang dengan giat mendebat melawan kebaikan yang kita kerjakan atau yang kita ketahui sebagai hal yang benar. Ada sesuatu di dalam diri kita yang selalu mampu menemukan alasan-alasan untuk melakukan apa yang mudah daripada apa yang benar.

Iblis tersebut melanjutkan, “Aku akan membuat penawaran denganmu. Aku tahu bahwa kau seorang miskin, namun juga orang yang taat dalam beribadah dengan sebuah keluarga yang besar, dan kau senang membantu orang lain, Setiap pagi aku akan menaruh dua koin emas. Selain terhindar dari bahaya pembunuhan dan tidak memperoleh apa pun, kau dapat menggunakan uang tersebut untuk kebutuhan keluargamu dan juga membantu orang-orang miskin.

Penebang kayu tersebut menyetujuinya. Keesokan paginya, ia menemukan dua koin emas dibawah tempat tidurnya. Ia membeli makanan dan pakaian baru untuk keluarganya dan membagikan sisa uangnya untuk orang-orang miskin. Pada pagi berikutnya, penebang kayu tersebut tidak menemukan apa pun. Ia mencari ke seluruh ruangan, tetapi tetap tidak menemukan koin emas.

Merasa berang terhadap penghianatan sang iblis, si penebang kayu mengambil kampaknya dan bersiap-siap untuk pergi menebang pohon tersebut.

Sang iblis kembali mencegahnya, sambil tersenyum ia bertanya, “Kau akan pergi kemana?”

“Penipu, pembohong!, Aku akan menebang pohon itu!”

Iblis menyentuh dada si penebang kayu dengan satu jarinya. Si penebang kayu terjatuh ke tanah, pingsan akibat kekuatan sentuhan tersebut. Lalu, iblis menyentuh dada sang penebang pohon dengan satu jarinya dan menekannya ke tanah. Sang iblis berkata, “Kau ingin aku membunuhmu? Dua hari lalu kau akan membunuhku. Berjanjilah, kau tidak akan menebang pohon tersebut.”

Si penebang kayu menjawab, “Aku berjanji tidak akan menebang pohon tersebut. Katakanlah satu hal kepadaku, dua hari yang lalu aku mengalahkan dirimu dengan mudah. Darimana kau dapatkan kekuatan yang luar biasa pada hari ini?”

Sang iblis tersenyum kembali. “Saat itu kau akan menebang pohon tersebut karena Tuhan. Namun, hari ini kau berkelahi denganku karena dua buah koin emas!!!”

*Dimas: Memang melakukan sesuatu yang tulus bukanlah hal yang mudah. Terkadang hasrat lain seperti pamrih, pamer, ingin terlihat baik timbul, dan jika kita tidak benar-benar tulus maka sifat-sifat buruk ini akan menutupi hati kita dan pada akhirnya kita melakukan sesuatu yang sia-sia, lebih buruk lagi perbuatan yang pada awalnya kebaikan akhirnya berujung kepada keburukan karena nilai-nilai mulia telah hilang akibat keburukan hati kita. Untuk itu, kita harus terus menjaga dan melihat dengan cermat hati kita agar ketulusan dalam berbuat tetap terjaga. Semoga Tuhan selalu menjaga hati kita agar terhindar dari sifat-sifat yang buruk.amin