BLOGGER TEMPLATES - TWITTER BACKGROUNDS

16 December 2008

Jangan Biarkan Hatimu Mati

[Media Puisi - Kisah Bijaksana ] Diantara tanda-tanda matinya hati adalah jika anda tidak merasa susah ketika kehilangan keselarasan taat kepada Allah, dan tidak menyesali perbuatan dosa anda.”

Hati itu terletak di tengah antara kiri dan kanan, antara depan dan belakang, antara atas dan bawah dan antara baik dan jahat. Hati itu titik tengah, point perimbangan, point neraca atau median dan Ada sekeping daging dalam badan manusia, apabila keadaannya baik, seluruh diri jadi baik. Dan apabila ia tidak baik, seluruh diri jadi tidak baik. Sadarlah, daging itu ialah hati.

Hati yang mati disebabkan oleh berbagai penyakit kronis yang menimpanya. Manakala hati seseorang tidak sehat, maka hati tentu sedang terserang penyakit-penyakit hati. Penyakit hati itu begitu banyak yang terkumpul dalam organisasi Al-Madzmumat, dengan platform gerakan yang penuh dengan ketercelaan dan kehinaan, seperti takabur, ujub, riya’, hubbuddunya, kufur, syirik, dan sifat-sifat tercela lainnya. Ketika sikap-sikap mazmumat ini dihadapan pada kepentingan Allah, maka akan muncul tiga hal:

Manusia semakin lari dari Allah, atau dia justru memanfaatkan simbol-simbol Allah untuk kepentingan hawa nafsunya, atau yang terakhir dia dibuka hatinya oleh Allah melalui HidayahNya.


bahwa kematian hati (qalbu) karena tiga hal:

1. Mencintai dunia,

2. Alpa dari mengingat Allah,

3. Membiarkan dirinya bergelimang maksiat.

Sedangkan tanda-tanda kematian hati juga ada tiga:
Jika anda tidak merasa susah ketika kehilangan keselarasan taat kepada Allah. Tidak menyesali dosa-dosanya. Bersahabat dengan manusia-manusia yang lupa pada Allah yang hatinya sudah mati.

Kenapa demikian? Karena munculnya kepatuhan kepada Allah merupakan tanda kebahagiaan hamba Allah, sedang munculnya hasrat kemaksiatan merupakan tanda kecelakaan hamba. Apabila hati hidup dengan ma’rifat dan iman maka faktor yang menyiksa hati adalah segala bentuk yang membuat hati menderita berupa kemaksiatan hati kepada Allah. Yang membuatnya gembira adalah faktor ubudiyah dan kepatuhannya kepada Allah.

Boleh saja anda mengatakan:
Jika seorang hamba Allah bisa taat dan melaksanakan ubudiyah, itulah tanda bahwa hamba mendapat Ridlo Allah. Hati yang hidup senantiasa merasakan Ridlo Allah, lalu bergembira dengan ketaatan padaNya.

Jika seorang hamba Allah bermaksiat kepadaNya, itulah pertanda Allah menurunkan amarahNya. Hati yang mati tidak merasakan apa-apa, bahkan sentuhan taat dan derita maksiat tidak membuatnya gelisah. Sebagaimana yang dirasakan oleh mayit, tak ada rasa hidup atau rasa mati.

agar dosa dan masa lalu, jangan sampai membelenggu hamba Allah, yang menyebabkan sang hamba kehilangan harapan kepada Allah. Karena itu, rasa bersalah yang berlebihan yang terus menerus menghantui hamba harus dibebaskan dari dalam dirinya. Sang hamba harus tetap optimis pada masa depan ruhaninya di depan Allah.


Tak ada dosa kecil jika anda berhadapan dengan KeadilanNya, dan tak ada dosa besar jika anda berhadapan dengan FadhalNya.”


Apabila seorang hamba berbuat kepatuhan, ketaatan, ubudiyah, berarti itulah tanda bahwa sang hamba mendapatkan limpahan FadhalNya Allah. Sebaliknya jika sang hamba bermaksiat, menuruti hawa nafsunya, berarti merupakan pertanda bahwa si hamba berhadapan dengan KeadilanNya.

Tak ada yang lebih kita takutkan dibanding kita menghadapi Keadilan Allah, dan tak ada yang lebih dahsyat harapan kita dibanding kita menyongsong Fadhal dan RahmatNya.